Rupiah melenggang ke Rp 14.200-an per dollar AS

Begitu juga di kurs referensi antarbank, Jakarta Internbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Kurs tengah di Bank Indonesia ini juga memperlihatkan rupiah di level Rp 14.252 per dollar AS. Sementara pada Jumat pekan lalu, rupiah berada di Rp 14.339 per dollar AS.

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal menyampaikan, penguatan rupiah didorong oleh melonggarnya sikap Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terkait masalah perang dagang. Dalam pertemuannya di KTT G20 akhir pekan lalu, Trump sepakat menunda pemberian tarif impor terhadap produk-produk dari China selama 90 hari ke depan.

“Sebelumnya, tarif baru yang dikenakan AS dikabarkan akan berlaku pada awal Januari mendatang,” kata dia.

Mitul Kotecha, Senior Emerging Markets Strategist di TD Securities, seperti dikutip Bloomberg juga mengatakan, meredanya ketegangan tentang perang dagang memacu selera investor akan aset-aset berisiko, termasuk rupiah.

Dia mengatakan, penguatan rupiah juga ditopang aksi proaktif Bank Indonesia menjaga mata uang Garuda. Perkiraan dia, rupiah akan tetap bertenaga sampai akhir tahun ini daftar poker.

Selain itu, pergerakan rupiah akan dipengaruhi hasil inflasi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini. Analis memperkirakan, inflasi Indonesia akan di kisaran 3% di Bulan November. Sedangkan analis yang dikumpulkan Bloomberg meramal, inflasi melaju 3,19%.

Faisyal pun memprediksi, rupiah akan menguat sepanjang perdagangan hari ini di rentang Rp 14.160—Rp 14.335 per dollar AS.

Harga minyak merosot 44% dari level tertinggi jelang tutup tahun

Fluktuasi harga minyak masih terjadi di sekitar level terendah tahun ini. Rabu (26/12) pukul 7.18 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2019 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 43,24 per barel.

Harga minyak ini naik 1,67% jika dibandingkan dengan harga penutupan Senin (24/12) yang ada di US$ 42,53. Senin lalu, harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) ini mencapai level terendah tahun ini.

Harga minyak WTI sudah turun 44,01% dari level tertinggi tahun ini US$ 75,96 per barel yang tercapai pada 3 Oktober dan turun 24,70% sejak awal tahun.

Sedangkan harga minyak brent untuk pengiriman Februari 2019 ditutup pada level US$ 50,47 per barel pada Senin lalu. Harga minyak ini pun merupakan level terendah sepajang 2018. Sejak awal tahun, harga minyak acuan internasional ini turun 19,79%.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak kemarinmengatakan bahwa harga minyak akan lebih stabil pada semester pertama tahun depan. “Pada masa pemangkasan yang sudah dikonfirmasi OPEC dan non-OPEC Desember lalu, harga minyak akan lebih stabil dan lebih seimbang,” kata Novak seperti dikutip Reuters.

Dia menambahkan, tidak ada permintaan rapat luar biasa dengan OPEC akibat penurunan harga minyak ini. Novak mengatakan, harga minyak turun karena faktor makroekonomi. “Ada faktor fundamental seperti penurunan permintaan pada musim dingin, makroekonomi yang kita lihat seperti penurunan aktivitas ekonomi global di akhir tahun, dan penurunan di pasar saham,” imbuh dia.

OPEC dan non-OPEC akan memangkas produksi total 1,2 juta barel per hari mulai Januari untuk menahan penurunan harga minyak lebih jauh.

Tujuh sentimen berikut akan menjadi penggerak IHSG pada 2019

Pergerakan IHSG sepanjang tahun 2018 tidak dipungkiri terimbas oleh berbagai sentimen, baik dari domestik maupun global. Akan tetapi, tampaknya IHSG lebih banyak terpengaruh oleh sentimen global. Hingga Jumat (21/12), IHSG turun 3,02% secara year to date atau sejak awal tahun.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menilai bahwa tahun depan IHSG masih akan lebih banyak dipengaruhi sentimen global yang hampir mirip dengan tahun ini. Pertama, masih adanya potensi perang dagang seiring sikap kedua petinggi negara, baik AS maupun Tiongkok, yang belum terlihat melunak. “Terkait pengenaan tarif impor, kondisi ini terus berulang maka bukan tidak mungkin akan mempengaruhi perkembangan ekonomi global,” ujar Reza, Selasa (25/12).

Kedua, rencana kebijakan Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunganya. Ketiga, silang pendapat antara Trump yang didukung oleh kubu Partai Republik dengan Demokrat di dalam Kongres juga kemungkinan akan terjadi. Masalah ini muncul ketika Trump meminta anggaran besar untuk mendirikan tembok pembatas antara AS dan Meksiko.

Kubu Demokrat hanya menyetujui sebagian dari anggaran ini. Bukan tidak mungkin, sikap keras Trump ini akan terjadi pada pengambilan kebijakan-kebijakan lainnya yang pada akhirnya membuat pelaku pasar bereaksi negatif. Masih ada lagi beberapa sentimen yang bersifat makro pada ekonomi AS. Selain itu, akan dipengaruhi oleh kinerja para emiten AS.

Keempat, ialah kondisi yang ada di Uni Eropa. Entah itu terkait Brexit, penyelesaian anggaran berbagai negara Uni Eropa yang bermasalah, pertumbuhan ekonomi dan industri, hingga langkah European Central Bank (ECB) yang akan mulai mengurangi program stimulusnya IDN Poker.

Dengan adanya pengurangan tersebut, meski dari sisi ECB ini akan bagus untuk pertumbuhan ekonomi negara-negara Uni Eropa secara mandiri namun, belum tentu di mata pelaku pasar yang kemungkinan akan menilai pertumbuhan ekonomi Uni Eropa masih perlu bantuan finansial dari ECB. Berbagai kondisi tersebut dapat memengaruhi laju bursa saham Eropa dan juga pergerakan nilai mata uangnya.

Pelemahan euro akan membuka peluang penguatan dollar AS, dan indeks dollar sehingga dapat berimbas negatif pada pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Kelima, ialah perkembangan ekonomi Tiongkok. Perkembangan ini seiring menjadi perhatian pelaku pasar karena mengingat Tiongkok tidak hanya menjadi bagian dari negara-negara besar dan berpengaruh, juga merupakan mitra dagang utama Indonesia yang memiliki nilai perdagangan terbesar di antara negara-negara lainnya. Oleh karena itu, bila sesuatu hal negatif terjadi pada ekonomi Tiongkok maka reaksi pelaku pasar cenderung negatif.

Keenam ialah dari dalam negeri. Adanya rilis berbagai indikator utama makronomi internal selalu menjadi perhatian pelaku pasar. Biasanya pelaku pasar mencermati rilis pertumbuhan ekonomi kuartalan, inflasi, neraca perdagangan, dan cadangan devisa. Selain itu, pasar juga mengaitkannya dengan pergerakan nilai tukar rupiah.

Sepanjang tahun 2018, rupiah telah terdepresiasi 8,7% seiring reaksi negatif pelaku pasar terhadap imbas sentimen global dan sentiman dari dalam negeri yang di bawah perkiraan sebelumnya. “Rupiah di tahun 2019 diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp14.300-15.250. Pada RAPBN 2019 telah disetujui kurs rupiah sebesar Rp 15.000 per dollar AS,” paparnya.

Ketujuh ialah sentimen maupun pemberitaan dari para emiten. Rilis berbagai perkembangan kinerja emiten menjadi hal yang penting bagi pelaku pasar karena dapat mengetahui apakah kinerjanya meningkat, tetap/stagnan, maupun menurun.

“Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik kenaikan maupun penurunan dari kinerja. Apakah karena secara sektoral atau karena memang manajemen kurang mampu dalam mengelola perusahaan,” kata Reza.

Jika secara sektoral terjadi penurunan tapi manajemen mampu bertahan dengan pertumbuhan tipis, maka kondisi ini hanyalah bersifat sementara dan masih memiliki peluang untuk kembali meningkat ke depannya. Adanya pemberitaan juga dapat mempengaruhi pergerakan harga sahamnya. Pelaku pasar pun dapat memanfaatkan pemberitaan tersebut untuk mengambil posisi, baik beli maupun jual.