Komisaris Trada Alam Minera (TRAM) jual 320,9 juta saham perusahaan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Salah satu pemegang saham PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) yakni Heru Hidayat yang juga merupakan Komisaris Utama TRAM dan Direktur PT Graha Resources melakukan transaksi penjualan saham TRAM.

Transaksi dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2018 lalu, dengan menjual 320,9 juta saham dengan harga penjualan Rp 200 per saham. Dengan transaksi tersebut dirinya saat ini menggenggam 23,99 miliar saham TRAM atau setara 48,34%. “Tujuan dari transaksi strategis bisnis, status kepemilikan saham SBOBET langsung,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Senin (5/11).

Sebelumnya Heru menggenggam 24,32 miliar saham TRAM atau setara 48,99%. Transaksi ini sudah disampaikan sesuai dengan pasal 2 POJK no 11/POJK.04/2017 mengenai keterbukaan informasi pemegang saham tertentu.

Tanggapan analis atas penilaian Morgan Stanley terkait pasar saham Indonesia

Morgan Stanley memberi rekomendasi overweight ke Indonesia. Artinya, house ini menyarankan ke kliennya untuk memperbesar bobot Indonesia dalam portofolio investasi mereka. Hal ini ikut membantuk IHSG menguat belakangan ini.

Morgan Stanley Asia juga memandang positif langkah-langkah kebijakan pemerintah, baik secara moneter maupun fiskal. Dalam risetnya, Kamis (1/11), analis Morgan Stanley Asia Sean Gardiner menyebut, pertumbuhan positif juga tampak pada barang konsumsi dan pinjaman di tengah dinamika ekonomi global sepanjang tahun ini.

Morgan Stanley juga melihat saham sektor perbankan dan telekomunikasi menjadi yang paling diminati. Sedangkan saham sektor material dan bahan baku tergolong underweight hingga tahun depan.

Saham perbankan dinilai bakal terdongkrak oleh pertumbuhan kredit yang positif sbobet indonesia. Sementara saham telekomunikasi bangkit seiring berakhirnya perang tarif dan penggunaan data mobile yang makin tinggi.

Adapun saham-saham large caps yang diprediksi mengalami rebound hingga periode 2019 antara lain, PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Untuk saham middle caps, analis Morgan Stanley merekomendasikan saham PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Adapun secara year to date (ytd) harga saham ASII sudah turun 1,51% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 8.175 per saham.

Lalu saham BBCA secara ytd naik 10% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 24.000 per saham.

Selanjutnya saham BMRI secara ytd turun 7,19% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 7.425 per saham.

Sedangkan saham TLKM secara ytd turun 11,26% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 3.940 per saham.

Selanjutnya saham EXCL secara ytd turun 29,39% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 2.090 per saham.

Lalu saham MAPI secara ytd naik 29% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 800 per saham.

Sementara saham PGAS secara ytd naik 15% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 2.010 per saham.

Selanjutnya saham PWON secara ytd turun 21% dan pada akhir perdagangan Jumat (2/11) berada di level Rp 540 per saham.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama turut mengatakan hal yang senada. Nafan bilang, kebijakan pemerintah sangat akomodatif dalam mendukung perkembangan ekonomi di tanah air.

“Misalnya penerapan bea impor, lalu penerapan B20, kemudian pengembangan KEK secara berkesinambungan. Dan di tengah-tengah ketidakpastian global, stabilitas fundamental makroekonomi domestik dimaintain secara efektif oleh pemerintah,” terangnya, Minggu (4/11).

Dari sisi saham, Nafan merekomendasikan sejumlah saham antara lain sebagai berikut.

1. Maintain Buy saham ASII dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 8.500 per saham. Saham tersebut sebentar lagi akan over value karena PERnya saat ini sebesar 14,55 kali.

2. Akumulasi beli saham BBCA dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 28.800 per saham. Saham tersebut sudah over value karena PERnya saat ini sebesar 23,98 kali.

3. Mantain Buy saham BMRI dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 7.875 per saham. Saham tersebut sebentar lagi akan over value karena PERnya saat ini sebesar 14,36 kali.

4. Mantain Buy saham TLKM dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 4.530 per saham. Saham tersebut sudah over value karena PERnya saat ini sebesar 20,52 kali.

5. Akumulasi beli saham MAPI dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 900 per saham. Saham tersebut sudah fair value karena PERnya saat ini sebesar 13,56 kali.

6. Akumulasi beli saham PGAS dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 2.680 per saham. Saham tersebut masih under value karena PERnya saat ini sebesar 11,62 kali.

7. Akumulasi beli saham PWON dengan target harga hingga tahun 2019 di level Rp 820 per saham. Saham tersebut masih under value karena PERnya saat ini sebesar 11,02 kali.

8. Wait and see saham EXCL, sebab pergerakan harga sebelumnya mengalami penurunan dan secara fundamental mengalami kerugian pada kuartal III 2018. Selain itu, PERnya sebesar -139,33 kali.

Setali tiga uang, analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan juga mengatakan sejumlah kebijakan pemerintah turut membantu kenaikan indeks dan sejumlah saham secara sektoral.

“Pekan kemarin APBN 2019 telah disetujui dan secara umum, asumsi makro relatif stabil di tahun 2019,” terangnya.

Lebih lanjut, ia bilang salah satu pertimbangannya adalah laju pengetatan moneter The Fed yang diperkirakan tidak secepat untuk tahun ini akan membuat saham-saham sektor material dan bahan baku, serta perbankan maupun telekomunikasi berpotensi rebound di tahun depan.

Dari sisi saham, secara teknikal ia merekomendasikan untuk beli beberapa saham di antaranya :

1. PGAS, secara teknikal tengah membentuk bullish reversal. Perhatikan critical level Rp 2.000 per saham. Selama bertahan di kisaran level ini, PGAS berpeluang kembali ke kisaran Rp 2.300 hingga Rp 2.500 per saham.

2. PWON,secara teknikal three white candles yang terbentuk pekan baru, merupakan sinyal awal bullish reversal. Selanjutnya, PWON akan menguji pivot di level Rp 550 per saham, sebelum melanjutkan bullish reversal hingga kisaran Rp 580 hingga Rp 600 per saham.

3. MAPI, secara teknikal masih konsolidatif di support maupun resistance masing-masing di level Rp 750 hingga Rp 850 per saham. Trading buy dapat dilakukan di atas Rp 750 per saham.
Sebaliknya, break low support di level Rp 750 per saham menjadi sinyal bearish reversal.

Impor China turun, harga batubara merosot 4%

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren pelemahan harga minyak dan China yang mulai membatasi impor batubara, membuat harga batubara makin terkoreksi.

Mengutip Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 ditutup anjlok 4,12% di level US$ 102,45 per metrik ton, Rabu (14/11). 

Analis Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar mengatakan penurunan harga minyak turut menyeret komoditas energi termasuk batubara.

Harga minyak dunia turun membuat harga ekonomi dari komoditas energi lain yang menjadi substitusi minyak juga jadi melemah harganya.

Selain itu, pemerintah China yang mulai membatasi impor guna menggenjot produksi domestik juga semakin menekan harga batubara. “Sebelumnya China sudah melaukan restock jadi sudah impor banyak saat ini jadinya impor ditutup makanya harga batubara turun signifikan,” kata Deddy, Kamis (15/11).

Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Sanny Cicilia
Video Pilihan

Kebijakan pembobotan indeks baru ikut menekan IHSG

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah 1,65% ke level 5.777 pada awal pekan ini, Senin (12/11). Berdasarkan data yang dikutip dari RTI, hari ini asing melakukan penjualan sebesar Rp 17,66 miliar.

Analis Phintacro Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan, pergerakan IHSG dipengaruhi oleh kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memasukkan jumlah saham emiten yang beredar atau free float untuk melakukan penghitungan pembobotan indeks.

Kebijakan ini memicu aksi rebalancing portofolio dari sebagian Manager Investasi yang ada di Indonesia, karena berefek pada Indeks LQ45 dan IDX 30

“Kalau ada manager invetasi yang menggunakan reksadananya IDX30 dan LQ45 sebagai acuannya, investor akan melakukan rebalancing terutama terhadap saham-saham dengan float kecil, ini yang menjadi faktor jual signifikan,” katanya.

Selain itu, defisit transaksi berjalan (CAD) kuartal ketiga yang naik menjadi US$ 8,8 miliar atau setara dengan 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB) membuat investor khawatir apalagi perekonomian kita cenderung stagnan. Menurut Valdy, seharusnya batas aman CAD 3% dari PDB.

Namun, Valdy menilai, pelemahan IHSG hanya sementara. Jika pasar sudah tenang, investor akan mulai kembali mengumpulkan saham-saham blue chips.

Valdi memprediksi, IHSG besok akan ada di di level 5.775. Namun, jika pada di level tersebut IHSG melemah, kemungkinan IHSG akan turun di 5.700-5.730.

Sementara jika pada pembukaan perdagangan esok hari, IHSG berada di level 5.775, maka IHSG bisa kembali rebound ke level 5.800 – 5.850. Lebih lanjut Valdy mengatakan, belum terlihat secara signifikan sentimen apa yang mempengaruhi pergerakan IHSG besok. Tapi, kemungkinan besar pengaruhnya masih sama, yaitu defisit transaksi berjalan (CAD) dan juga perkembangan kebijakan free float.

Sejalan dengan Valdy, Analis Binartha Sekuritas Nafan Aji menilai, bahwa rilis CAD masih membayangi pergerakan IHSG hari ini, selain itu dari faktor eksternal market memang sedang tidak terlalu ramai.

“Di pasar AS pasar sedang libur karena hari nasional Veterean dan di Canada pasar tutup karena memperingati hari pahlawan nasional,” katanya. Sentimen tersebut membuat pelaku pasar memilih instrumen lain.

Menurut Nafan, pelemahan rupiah ke level Rp 14.800 juga menjadi faktor penggerak IHSG hari ini. Nafan mengatakan, IHSG akan berada di level 5.741-5.705 dan 5.848-5.919, namun akan kembali melemah menuju ke area Support.

Reporter: Auriga Agustina
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Auriga Agustina
Editor: Sanny Cicilia
Video Pilihan

Rupiah terkoreksi hampir 1% di penutupan perdagangan Jumat (9/11)

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah yang sempat perkasa di pertengahan pekan ini kembali terkoreksi. Meski melemah, rupiah masih di bawah level Rp 15.000 per dollar AS pada penutupan perdagangan Jumat (9/11). 

Mengutip Bloomberg di pasar spot rupiah melemah 0,96% ke level Rp 14.678 per dollar AS. Sebelumnya, dalam sepekan rupiah menguat 1,85%. Berbeda dengan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mata uang Garuda justru menguat 0,77% ke Rp 14.651 per dollar AS atau dalam sepekan menguat sebesar 3,03%.

Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto mengatakan penguatan rupiah pekan ini dipengaruhi berbagai sentimen utama baik dari domestik maupun eksternal. “Mulainya instrumen DNDF per November 2018, data neraca perdagangan yang surplus oleh karena kinerja ekspor, inflasi yang cukup terkendali, data cadangan devisa yang naik pertama kali di tahun 2018 menggambarkan BI sudah mulai berkurang melakukan intervensi,” jelas Andri. 

Pasar keuangan Indonesia yang sudah terkoreksi cukup dalam sebelumnya akhirnya mendapatkan aliran dana asing masuk yang cukup agresif terutama pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.

Sedangkan dari global, redanya perang dagang setelah adanya rencana pertemuan antara AS dan Tiongkok dalam KTT G-20 dinilai memberikan kestabilan perekonomian global. Pelemahan drastis indeks dollar jelang pemilu jangka menengah terjadi akibat pelaku pasar yang sedikit gelisah sehingga menghindari aset-aset dollar.

Namun menurut Andri secara teknikal setiap ada rally kenaikkan yang panjang, akan ada koreksi setelahnya yang didorong aksi profit taking seperti yang terjadi pada dua hari terakhir ini. Selain itu juga didorong kegelisahan pelaku pasar terhadap hasil pemilu jangka menengah AS sudah mulai mereda. 

“Meskipun DPR dikuasai Demokrat dan Senat dikuasai Republik, setidaknya kekuatan masih cukup berimbang. Ada narasi Jerome Powell paska FOMC yang mengindikasikan masih hawkish, ini mendorong dollar rebound,” lanjut Andri.

Sementara, Ekonom Bank Permata Joshua Pardede mengatakan rupiah kembali melemah karena merespon keputusan The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 2%-2,25%. “Tapi outlook ke depannya cukup positif bila dilihat dari sisi return, dari perkembangan inflasi yang masih dekat 2% juga tingkat pengagguran tenaga kerja terus menurun,” jelas Joshua. 

Di sisi lain, European Central Bank (ECB) mengeluarkan rilisnya di mana masih ada kekhawatiran terhadap anggaran fiskal Italia. Bergantung pada negosiasi Italia dengan Komisi Eropa, hal tersebut dapat mempengaruhi apakah ECB ke depannya akan mulai menaikkan suku bunga atau sebaliknya.

Joshua mengatakan pelaku pasar menantikan CAD dengan ekspektasi belum bisa dikelola dengan baik sehingga defisit akan melebar bila dibandingkan dengan kuartal II.  “Maka pelaku pasar masih wait and see dan cenderung melepas rupiah untuk saat ini. Selain itu juga menunggu data-data AS seperti PPI (Producer Price Index), serta pelaku pasar masih mencermati keputusan The Fed,” jelas Joshua. 

Ia memproyeksikan kemungkinan rupiah bergerak di level Rp 14.625-Rp 14.750 per dollar AS. Sedangkan menurut Andri, dengan keadaan AS yang mulai stabil rupiah kemungkinan masih bisa dibuka menguat di level Rp 14.610-Rp 14.660 per dollar AS. “Namun perjalanannya relatif agak bergejolak karena pelaku pasar masih adjustment di awal pekan,” kata Andri.

Reporter: Disa Ayulia Agatha
Editor: Yoyok

Reporter: Disa Ayulia Agatha
Editor: Yoyok
Video Pilihan

Bisnis batubara bangkit, kinerja Dian Swastatika (DSAA) tumbuh dua digit

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 1,40 miliar hingga kuartal III 2018. Pendapatan  DSSA itu atau naik 64,13% dari periode sama pada tahun lalu.

Kenaikan pendapatan mengerek laba DSSA. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas tumbuh hingga 40,38% menjadi US$ 102,40 juta dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 72,94 juta.

Pendapatan yang paling banyak berkontribusi terhadap pendapatan DSSA berasal lini pertambangan dan perdagangan batubara yakni sebesar US$ 767,06 juta. Jumlah ini naik 67,36% dari kuartal III 2017 sebesar US$ 458,32 juta.  Penyumpang pendapatan terbesar kedua DSSA penjualan listrik ke PT PLN yang naik 101,23% menjadi US$ 451,45 juta.

“Per 30 September 2018, DSSA telah memproduksi sebanyak 16,9 juta ton batubara. Sebanyak 67% dari total penjualan batubara dialokasikan untuk ekspor dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Susan Chandra, Corporate Secretary DSSA.

Dari bisnis pembangkit tenaga listrik, DSSA tengah membangun IPP PLTU Kendari-3 dan IPP PLTU Kalteng-1 yang diperkirakan mulai beroperasi secara komersial pada pada kuartal I-2019 dan kuartal IV-2019. Sebagai informasi, untuk sektor kelistrikan, DSSA telah memiliki PLTU Sumsel-5 berkapasitas 2X150 MW yang beroperasi sejak 20 Desember 2016. “Kedua IPP PLTU ini diharapkan akan dapat memberikan tambahan kontribusi pendapatan sekitar 10% pada tahun 2019,” kata Susan.

DSSA juga merambah bisnis multimedia, yang pada kuartal III-2018 memberikan kontribusi sebesar 2% total pendapatan atau setara US$ 27,61 juta. Pendapatan ini naik 22,38% dari periode sama tahun lalu, US$ 22,56 juta. “Untuk ekspansi dari lini internet, DSSA berupaya meningkatkan rasio penetrasi pelanggan dari jaringan homepass yang telah terpasang,” kata Susan.

Dengan kinerja di kuartal III-2018 yang cukup baik, DSSA optimistis, kinerja hingga akhir tahun juga akan bagus. DSSA menargetkan pendapatan sepanjang tahun 2018 bisa mencapai US$ 1,8 miliar. Target tersebut naik sekitar 36% dibandingkan realisasi pendapatan pada tahun lalu yang senilai US$ 1,32 miliar.

DSSA berupaya memastikan setiap unit bisnis dapat memberikan kontribusi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Tahun ini, DSSA menganggarkan capital expenditure (capex) sebesar US$ 300 juta.”Realisasi capex untuk periode Januari-September 2018 sebesar US$ 138 juta. Sebagian besar (85%) dari total capex yang telah direalisasikan dialokasikan untuk proyek pembangunan IPP PLTU, dan sisanya dialokasikan bisnis multimedia, pertambangan batubara, dan lain-lain,” imbuh Susan.

Reporter: Willem Kurniawan
Editor: Komarul Hidayat

Reporter: Willem Kurniawan
Editor: Komarul Hidayat