ABM Investama (ABMM) segera merampungkan akuisisi tambang

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT ABM Investama Tbk (ABMM) memproyeksi kinerjanya bakal cemerlang sepanjang tahun ini. Pasalnya, rencana akuisisi tambang batubara yang digadang-gadang dari beberapa tahun lalu segera terealisasi.

Direktur Keuangan ABM Investama Adrian Erlangga mengungkapkan, transaksi akuisisi tambang batubara ini akan selesai paling lambat akhir kuartal I 2019. “Sekarang sedang proses due diligence, kami harapkan selesai secepatnya,” kata Adrian, Sabtu (19/1).

Sebelumnya, emiten berkode saham ABMM ini juga mengajukan permohonan perubahan surat utang atau consent solicitation kepada pemegang obligasi atau bond holder. Hal ini dilakukan untuk memuluskan rencana ABM Investama mengakuisisi tambang batubara yang berlokasi di Kalimantan. Perubahan surat utang ini diajukan kepada pemegang obligasi tahun 2022 senilai US$ 350 juta.

ABM Investama harus meminta persetujuan para pemegang obligasi agar dapat melakukan investasi minoritas strategis di tambang batubara yang dibidik ini. Adrian belum dapat menyampaikan mengenai detail nilai transaksi akuisisi tambang batubara ini.

Usai transaksi akusisi rampung, Adrian mengungkapkan mereka dapat memulai produksi di kuartal kedua 2019. Tambang yang akan diakuisisi ini memiliki cadangan batubara sebesar 100 juta ton hingga 150 juta ton atau mampu bertahan untuk 10 tahun produksi. “Kami memang mencari tambang yang sudah beroperasi dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama,” sebut Adrian.

Sehingga, sambung Adrian, hal ini nantinya bakal mengerek pendapatan usaha ABMM serta menjaga keberlanjutan usaha. Adrian bilang, tambang ini mampu memproduksi 6 juta ton per tahun. “Kami sih berharapnya tahun ini produksinya dapat ditingkatkan menjadi 7 juta ton,” tutur Adrian.

Asal tahu saja, batubara dari tambang ini memiliki kalori sebesar 5.200 kcal/kg hingga 5.500 kcal/kg. Saat ini, ABMM memproduksi batubara berkalori rendah. Mereka memang mengincar tambang yang memiliki kalori cukup tinggi lantaran harganya yang cenderung stabil. “Pasarnya ada Jepang dan Taiwan,” imbuh Adrian.

Apabila rencana akuisisi ini lancar, dalam setahun ABMM akan mampu memproduksi 19 juta ton batubara per tahun. Sementara Adrian belum dapat mematok target pendapatan lantaran harga batubara yang cenderung fluktuatif ini. Sehingga mereka fokus dalam menggenjot produksi batubara.

Terkait belanja modal, ABMM mengeluarkan biaya sebesar US$ 60 juta setiap tahun untuk pemeliharaan. Pada tahun ini pun ABMM mengalokasikan biaya US$ 60 juta untuk maintenance di luar biaya untuk akuisisi.

Reporter: Ika Puspitasari
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Ika Puspitasari
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan