Ada risiko perlambatan ekonomi global, ini saham paling defensif menurut analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Banyak negara diperkirakan mengalami pelambatan ekonomi di 2019. Hal ini tercermin dari kondisi ekonomi beberapa negara besar seperti Amerika Serikat (AS), China dan Jepang yang diproyeksi tumbuh lambat tahun ini.

Sebelumnya, China sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi tahun ini bakal melambat, begitu juga dengan AS yang sudah memberikan sinyal. Ditambah lagi, hasil jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah ekonom menyebutkan, Jepang berisiko mengalami resesi ekonomi di tahun fiskal mendatang atau periode April 2019-April 2020.

Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Alfred Nainggolan melihat dari sisi sentimen, potensi resesi masih terlalu berat dan memerlukan proses. Sehingga, dia memperkirakan ruang terjadinya resesi global belum akan terlihat di tahun ini.

“Untuk saat ini, lebih tepat jika memakai istilah pelambatan ekonomi,” kata Alfred kepada Kontan.co.id, Selasa (22/1).

Berkaca dari kondisi pelambatan ekonomi global, Alfred menilai dampaknya tidak akan terlalu besar ke perekonomian Tanah Air. Ini didukung berbagai konsensus yang memperkirakan ekonomi Indonesia 2019 lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, yakni di kisaran 5,2{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6}-5,3{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6}.

“Dampaknya tidak akan membuat ekonomi Tanah Air melambat, hanya saja tidak tumbuh agresif,” ungkapnya.

Terkait potensi perlambatan global, Alfred menilai beberapa sektor saham cukup defensif terhadap isu tersebut, seperti sektor konsumsi dan jasa keuangan. Di mana, sektor sektor tersebut dianggap memiliki daya tahan kuat terhadap pelambatan ekonomi karena berkaitan dengan belanja masyarakat.

Adapun emiten atau saham yang cukup defensif ketika terjadi resesi ekonomi global menurut Koneksi Kapital yakni, UNVR, KLBF dan SRIL. Sedangkan dari sektor jasa keuangan, saham perbankan Buku IV dinilai paling defensif, khususnya bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti BBRI, BBNI dan BMRI.

Menurutnya, saham saham tersebut menjadi defensif didukung fundamental yang baik. Artinya, ketika terjadi pelambatan ekonomi, belanja pokok masyarakat tidak akan berkurang.

“Hanya saja, valuasi saham saham defensif ini cenderung tinggi, karena mereka saham premium. Artinya punya resistensi tinggi dengan potensi downside yang rendah,” jelasnya.

Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan