Mandiri Sekuritas proyeksikan sektor manufaktur punya prospek paling positif

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Proyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir tahun mencapai 7.000, Mandiri Sekuritas menyebut sektor manufaktur memiliki prospek paling positif di 2019. Tak hanya itu, sektor konsumer, perbankan dan properti juga diyakini positif di tahun ini.

Head of Mandiri Institute Moekti Soejahmoen mengatakan, beralihnya fokus ekonomi China dari produsen menjadi konsumen, menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendorong industri manufaktur. Harapannya, peralihan ekonomi China bisa menjadi pangsa pasar bagi produksi manufaktur Indonesia.

“Kita tahu ekonomi China melambat dan polanya juga berubah, sehingga impor mereka akan lebih banyak untuk konsumsi,” kata Moekti, Senin (21/1).

Untuk memanfaatkan momentum tersebut, Moekti menilai penting untuk mendorong kinerja sektor manufaktur tahun ini. Selain itu, upaya mendorong sektor manufaktur di 2019 dinilai mampu mengadjust harga komoditas yang turun.

Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja memperkirakan ekspor komoditas Indonesia di 2019 cenderung akan flat, dengan kecenderungan mengalami penurunan.”Kita ekspektasikan di akhir tahun IHSG sekitar 7.000, ada kenaikan 10{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6} – 15{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6} dibandingkan tahun lalu. Ini sesuai dengan ekspektasi earning prices market,” jelas Tjandra.

Selain sektor manufaktur, sektor food and beverages (konsumsi), beberapa perbankan dan properti akan lebih baik di tahun ini. Sedangkan sektor komoditas diprediksi belum akan positif.

Kondisi tersebut, disertai kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun ini dikisaran 5,3{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6}, inflasi cenderung flat dari 2018, potensi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Fund Rate/FFR) dua kali dan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebanya satu kali.

Sedangkan untuk nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp 14.000 per dolar AS.

Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Noverius Laoli

Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan