Menguat ke US$ 52, harga minyak masih berada dalam tren bearish

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meski menguat pada perdagangan hari ini, harga minyak masih berada dalam tren bearish. Ada berbagai sentimen yang mempengaruhi harga minyak ke depan.

Mengutip Bloomberg, Pukul 19.08 WIB, Selasa (29/1) harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2019 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 52,40 per barel. Harga ini naik 0,79{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6} dari level sebelumnya US$ 51,99 per barel. Dalam sepekan, harga minyak turun 1,15{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6}.

Menurut Deddy Yusuf Siregar, analis Asia Trade Points Futures, ada beberapa sentimen yang membayangi harga minyak dunia. Pertama, ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat (AS).

Paman Sam mengenakan sanksi terhadap beberapa negara termasuk Venezuela. Pertimbangan menyetop pasokan ini minyak ini merupakan respons atas terpilihnya kembali Nicolas Maduro sebagai Presiden Venezuela. AS lebih mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden negara yang tengah krisis itu. Memanasnya konflik ini pun mampu menguatkan harga minyak dunia.

Faktor kedua yakni kekhawatiran pasar mengenai pasokan minyak dunia. Deddy bilang sampai saat ini pelaku pasar melihat AS sebagai salah satu negara produsen minyak terbesar. “Diperkirakan produksi minyaknya capai 12 juta barel per hari. Tahun 2020 berpotensi capai 13 juta barel per hari. AS ini mampu menyaingi Rusia, Arab Saudi dan Irak sebagai negara produsen minyak terbesar,” ucap Deddy kepada Kontan.co.id, Selasa (29/1).

Faktor selanjutnya yang menurut Deddy membuat harga minyak menguat adalah perundingan perang dagang AS dan China. Sekadar informasi, China dan AS akan menggelar pembicaraan dagang pada 30-31 Januari ini. Ia menuturkan apabila perang dagang berakhir positif, harga minyak bisa menguat lagi.

Namun, sebaliknya, jika perang dagang masih akan berlanjut, Deddy bilang, harga minyak pun akan bergerak terbatas di rentang US$ 51 sampai US$ 54 per barel. “Sebenarnya harga minyak masuk dalam tren bearish. Jadi wajar, selama beberapa pekan lalu harga naik turun karena adanya koreksi teknikal. Saat ini pasar sedang galau karena perang dagang AS-China. Itulah mengapa saya bilang tren bearish karena belum ada hasil perang dagang,” tandasnya.

Deddy mencatat pada kuartal kedua 2019, harga minyak berpotensi menguat meski masih di bawah level US$ 60 per barel. Untuk besok, Deddy memperkirakan harga minyak berada di level US$ 51 sampai US$ 54 per barel dan antara US$ 42,50-US$ 57,00 per barel.

Secara teknikal, Deddy melihat harga minyak berada di atas garis moving average (MA) 50 yang mengindikasi harga menguat dalam jangka waktu pendek. Kemudian harga berada di bawah MA 100 dan MA 200 yang mengindikasi harga menurun.

Indikator stochastic berada di area 42 yang mengindikasi pelemahan harga, dan indikator RSI di area 53 mengindikasi penguatan harga. Indikator MACD bergerak di area positif. Deddy pun merekomendasikan wait and see sambil menunggu keputusan perang dagang.

Reporter: Jane Aprilyani
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Jane Aprilyani
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan