Pefindo mengubah kriteria saham penghuni indeks PEFINDO25

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemeringkat Efek Indonesia mengocok ulang indeks PEFINDO25 untuk periode 1 Februari-31 Juli 2019. Pada tahun ini PEFINDO25 mengubah beberapa proses pemilihan saham yang bisa masuk ke dalam indeks ini.

Fikri C. Permana, Ekonom Pefindo mengatakan, perubahan yang paling signifikan dalam proses rebalancing di tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya adalah batas maksimal aset emiten yang masuk PEFINDO25 dari sebelumnya maksimal Rp 5 triliun menjadi maksimal Rp 10 triliun. Kebijakan tersebut dilakukan karena pihaknya menilai skala ekonomi saat ini dibandingkan tahun 2011 lalu jauh lebih baik.

“Terakhir kami melakukan perubahan pada rebalancing pada 2011 lalu, perubahaan tersebut kami lakukan untuk mengakomodir nilai perusahaan small medium enterprise (SME) agar sesuai dengan perkembangan dan skala ekonomi saat ini,” kata Fikri.

Selain itu, jika biasanya dalam proses pemilihan PEFINDO25 hanya melakukan satu lapis pemilihan atau langsung melakukan pemilihan konstituen, tahun ini Pefindo menyaring konstituen dalam dua layer.

Sebelumnya, konstituen yang masuk ke dalam indeks PEFINDO25 langsung disesuaikan dengan lima indikator yakni, total aset kurang dari Rp 5 triliun, return on equity (ROE), opini akuntan serta likuiditas. “Saat ini kami jadikan total aset dan aspek hukum sebagai layer satu, setelah disaring baru dapat masuk ke layer selanjutnya, yaitu layer dua yang dilihat dari aspek bisnis dan aspek likuiditasnya,” jelasnya.

Sebelumnya dari total 624 emiten yang adai Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat 474 emiten yang mengikuti proses layer satu. Kriteria untuk layer ini adalah aset tidak melebihi Rp 10 triliun dan aspek hukum terpenuhi, seperti tidak pernah masuk UMA dan disuspen oleh BEI selama enam bulan terakhir sebelum dilakukan rebalancing, serta telah tercatat di bursa minimal enam bulan. Kemudian setelah itu, Pefindo memilih 25 emiten terbaik.

Selain itu, pada tahun ini PEFINDO25 tidak lagi menggunakan ROE dalam proses pemilihan konstituennya, melainkan menggunakan return on asset (ROA) dan return on investment (ROI). Menurut Fikri, hal tersebut dilakukan karena kedua indikator tersebut, lebih baik digunakan sebagai tolok ukur untuk melihat kondisi bisnis suatu perusahaan, dibandingkan dengan ROE. “Kesimpulan tersebut kami dapatkan sesuai riset kecil-kecilan dan hasil diskusi kami dengan pelaku pasar keuangan,” ujarnya, Rabu (30/1)

PEFINDO25 akhirnya mengeluarkan saham POOL, BGTG, BULL, ARMY dan SAME dari daftar konstituennya karena alasan aspek bisnis terkait ROA dan ROI. Sementara MCAS, HEXA dan MAPB dikeluarkan karena faktor saham yang kurang likuid.

Selanjutnya dia menambahkan, konstituen baru yang masuk PEFINDO25 seperti BEST, ELSA, HOKI, MAIN, SCMA, WEGE, WTON memiliki kriteria bisnis dan likuiditas yang lebih baik daripada konstituen lain yang dikeluarkan. “Sebenarnya yang terbaik secara universe atau dari 624 emiten, adalah ROE dan ROI-nya Multi Prima Sejahtera (LPIN), tapi karena mereka tidak likuid tidak kami masukkan ke dalam indeks,” pungkas Fikri.

Reporter: Auriga Agustina
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Auriga Agustina
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan