Poundsterling melemah terhadap dollar AS

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah beberapa bulan lamanya, drama Brexit pun terjawab. Hal ini yang membuat pergerakan pairing mata uang GBP/USD melemah di perdagangan. Mengutip Bloomberg, Kamis (17/1) pukul 18.16 WIB pairing mata uang GBP/USD bergerak melemah 0,06{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6} atau di level 1,2877.

Analis Asia Tradepoint Future, Andri Hardianto menilai paska pengumuman voting Brexit oleh Parlemen Uni Eropa, pergerakan mata uang poundsterling pun melemah. Bahkan, ia menilai mata uang GBP/USD beberapa hari lalu bergerak konsolidasi. Hal ini karena pasar menerka-nerka jika keputusan ditolak dan apa amunisi Perdana Menteri Theresa May selanjutnya.

“Ada dua event yang membuat pasar memilih bertransaksi harian untuk mata uang poundsterling. Pertama ditolaknya voting Brexit dan kedua Perdana Menteri Theresa Maya lolos dari mosi tidak percaya,” ujar Andri kepada Kontan.co.id, Kamis (17/1).

Sekedar informasi, Theresa May menderita kekalahan fatal di parlemen Inggris hari Selasa (15/1) malam. Proposal perjanjian Brexit yang diajukannya ditolak parlemen dengan 432 suara tidak setuju dan hanya 202 suara setuju. Artinya, lebih 100 anggota parlemen dari partainya sendiri menolak perjanjian itu.

Tidak sampai disitu, Perdana Menteri Inggris Theresa May juga memenangi pemungutan suara kepercayaan di parlemen pada hari Rabu (16/1) waktu setempat atau Kamis dini hari (17 Januari 2019) waktu Indonesia. Karena kejadian ini, hingga 29 Maret nanti, perundingan Brexit pun masih akan bergulir.

“Selama perundingan Brexit belum selesai, maka bank sentral Inggris tidak akan mengeluarkan kebijakan dan mata uang poundsterling masih akan bergerak konsolidasi. Pasar pun hanya melihat, menahan diri sambil menunggu kepastian tersebut,” kata Andri.

Sementara mata uang dollar juga secara fundamental masih cukup lemah. Andri menilai bahwa permasalahan shutdown atau penutupan Pemerintah AS masih terjadi. Ditambah Vice Chairman The Fed, Richard Clarida yang meyakini kebijakan suku bunga AS masih dovish. Dan perundingan perang dagang AS-China yang masih berjalan.

“Jadi pelaku pasar lebih memilih bertransaksi saat harga menguat, dan kemudian keluar dari pasar sembari menunggu momen-momen positif,” ujarnya. Besok, Jumat (18/1), Andri memperkirakan pairing GBP/USD bergerak di rentang support 1,2847-1,2835-1,2817. Dan rentang resistance 1,2876-1,2893-1,2905.

Secara teknikal, pairing GBP/USD berada dibawah garis MA 50,100 dan 200. Ini mengindikasi untuk pasar membeli. Sama halnya dengan indikator RSI di area 14 dan MACD di area positif 0,002. Sementara indikator stochastic berada di level 81,2 atau titik jenuh. Ia pun merekomendasikan buy.

Reporter: Jane Aprilyani
Editor: Yoyok

Reporter: Jane Aprilyani
Editor: Yoyok
Video Pilihan