Rupiah menguat, saham aneka industri diramal stagnan

KONTAN.CO.ID –¬†JAKARTA. Sepanjang 2019, indeks saham sektor aneka industri hanya menguat 0,83{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6}. Angka tersebut, jauh lebih lambat dibandingkan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebesar 4,14{97e20e044193b0d2a238f1b15fb1e50874c581a19bbb778b66d53632017712d6} year to date (ytd).

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, lesunya indeks saham aneka industri karena penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Apalagi, indeks aneka industri diisi oleh saham dengan kapitalisasi pasar kecil seperti saham kabel, produsen komponen otomotif dan juga tekstil.

Selain itu, indeks aneka industri masih didominasi oleh saham PT Astra International Tbk (ASII). “Meskipun saham ASII membaik, tapi nampaknya saham-saham lain tidak bergerak, jadi indeks aneka industri agak turun,” kata Hans kepada Kontan.co.id, Rabu (23/1).

Apalagi, rata rata saham atau emiten yang mengisi indeks aneka industri cenderung memiliki bisnis yang mengacu pada aktivitas ekspor. Sehingga, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sepanjang 2019, belum menguntungkan bagi emiten yang berorientasi ekspor.

Ke depan, Hans memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah akan cukup kuat sepanjang 2019. Hal ini didukung sentimen perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, disertai risiko perlambatan ekonomi global.

“Sehingga, arahnya rupiah akan cukup kuat tahun ini, ditambah lagi asing mulai masuk lagi ke Tanah Air,” jelasnya.

Dengan kecenderungan tersebut, diperkirakan indeks aneka industri cenderung akan stagnan sepanjang 2019. Kalaupun ada penguatan, Investa Saran Mandiri memperkirakan baru akan terjadi di semester II-2019, tepatnya setelah pemilihan umum (pemilu) berakhir.

“Mungkin setelah pemilu ekonomi dalam negeri akan lebih bagus, karena permintaannya akan menguat di dalam negeri. Meskipun, untuk industri otomotif persaingannya cukup ketat tahun ini,” tandasnya.

Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan