Simplifikasi pembukaan rekening efek untungkan diaspora dan investor di daerah

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bursa Efek Indonesia dalam waktu dekat akan menerapkan simplifikasi pembukaan rekening efek. Dengan simplifikasi ini pembukaan rekening efek dapat dilakukan hanya dalam hitungan jam dan tanpa perlu lagi bertatap muka alias online. Asal tahu saja, selama ini dibutuhkan waktu hingga 14 hari atau dua pekan untuk proses pembukaan rekening efek.

Simpifikasi pembukaan rekening efek ini dilakukan untuk agar pasar modal dibanjiri oleh investor baru. Saat ini jumlah investor pasar modal yang tercatat melalui nomor tunggal identitas investor atau single investor indentification (SID) yang diterbitkan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) baru mencapai 1,61 juta orang. 

Dari jumlah tersebut hanya 850.000 orang saja yang tercatat sebagai investor saham. “Diharapkan dengan adanya simplifikasi pembukaan rekening efek yang akan dimulai pada kuartal II-2019, jumlah investor di pasar modal bisa mencapai 2,5 juta orang di akhir tahun nanti, khusus untuk investor saham diharapkan bisa bertambah jumlahnya sampai 1,2 juta orang,” kata Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi ketika dihubungi Kontan.co.id Jumat (25/1).

Lebih lanjut Hasan mengatakan saat ini BEI bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih menyiapkan draft regulasi terkait simplifikasi pembukaan rekening efek. Apabila nantinya sudah final barulah BEI akan melakukan sosialisasi dan mendorong perusahaan sekuritas anggota bursa untuk melakukan penyesuaian. 

Hasan bilang upaya simplifikasi pembukaan rekening efek ini mendapatkan sambutan positif dari seluruh perusahaan efek anggota bursa.

Terkait dengan simplifikasi pembukaan rekening efek, BEI juga menyiapkan server khusus untuk sistem komputasi awan atau cloud computing yang nantinya bisa digunakan oleh perusahaan sekuritas yang merasa keberatan apabila harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk investasi sistem berbasis teknologi informasi (TI) itu.

Sementara itu, salah seorang investor pasar modal kawakan, Irwan Ariston Napitupulu menilai simplifikasi pembukaan rekening efek oleh BEI memang harus segera dilakukan. 

Pasalnya, banyak calon investor potensial yang akhirnya enggan menanamkan modalnya di pasar modal Indonesia karena proses pembukaan rekening efek yang terbilang merepotkan dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Contohnya, banyak kawan saya diaspora di Amerika Serikat (AS) yang ingin berinvestasi saham di BEI, tapi mereka terkendala oleh pembukaan rekening efek yang harus dilakukan dengan tatap muka langsung di perusahaan sekuritas, tidak bisa online. Kendala yang sama juga dihadapi oleh orang-orang kaya di daerah yang tidak ada kantor perusahaan sekuritas,” kata Irwan.

Irwan menilai kondisi tersebut yang kemudian membuat investasi bodong seperti multilevel marketing (MLM) dan koperasi ilegal marak di daerah. Banyak orang kaya di daerah yang bingung harus ke mana menginvestasikan uang mereka miliki akhirnya terkena rayuan investasi bodong.

“Di daerah itu justru banyak uang, mereka membeli kendaraan atau alat-alat pertanian itu kebanyakan tunai, bukan kredit. Uang yang banyak hingga triliunan rupiah itu yang akhirnya lenyap begitu saja karena ketidaktahuan mereka yang ditipu oleh investasi bodong,” papar Irwan.

Irwan menilai dengan  simplifikasi pembukaan rekening efek, potensi kenaikan jumlah investor di pasar modal terutama bursa saham di tanah air akan naik signfikan. Karena nantinya investor asing khususnya yang berskala kecil hingga menengah dapat dengan mudah melakukan transaksi saham di Indonesia dengan mudah tanpa terkendala pembukaan rekening efek yang harus bertatap muka secara langsung. 

Ia menjelaskan bursa saham AS bisa punya jumlah investor yang sangat besar yang berasal dari seluruh penjuru dunia karena adanya kemudahan yang diberikan untuk membuka rekening efek dan bertransaksi secara online.

Irwan juga yakin apabila nantinya simplifikasi pembukaan rekening efek bisa terealisasi jumlah investor di pasar modal Indonesia bisa melebihi target yang ditetapkan oleh BEI. 

Reporter: Rezha Hadyan
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Rezha Hadyan
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan